Jumat, 08 September 2017

Cara membuat matematika mudah

Cara membuat matematika mudah :)


       Saya seorang guru matematika dan saya mengakui bahwa matematika memang pelajaran yang tidak mudah dipelajari tapi bukan berarti tidak bisa untuk dipelajari, banyak hal yang membuat matematika itu menjadi tidak mudah dipelajari, diantaranya adalah kualitas guru yang masih mengajarkan hapalan rumus bukan penguatan konsep dasar, buku pegangan siswa di sekolah dan kemauan siswa itu sendiri untuk bisa matematika. Akan saya coba jelaskan satu persatu.
Kualitas Guru
       Saat ini masih ada guru matematika yang mengajarkan matematika sebagai sebuah hapalan rumus (rumus-rumus turunan dari rumus inti) bukan sebuah pemahaman konsep dasar (rumus inti) bagaimana rumus-rumus turunan tersebut diperoleh, memang mengajarkan siswa hapalan rumus lebih mudah daripada mengajarkan siswa pemahaman konsep, tapi hal tersebut akan berdampak rendahnya kemampuan nalar siswa untuk bisa mengerjakan variasi-variasi soal.

Mungkin hal tersebut disebabkan oleh input dari siswanya yang sebelum belajar matematika sudah tidak ingin belajar matematika atau bisa dibilang mereka belajar matematika dengan cara yang salah dulunya dan akhirnya membuat guru mereka sekarang sedikit kerepotan mengajarkan konsep dasar sehingga ada sebagian guru melakukan jalan pintas dengan menyuruh siswa menghapal dan ini salah. Sebagai contoh, seorang dosen kecewa karena ternyata kemampuan matematika mahasiswanya bermasalah dan bertanya “dulu pas SMA diajarkan matematika oleh guru SMAnya dengan cara apa?” atau guru SMA kepada guru SMP dan guru SMP ke guru SD.
Ini sebuah masalah dan dimana masalah utamanya?
       Matematika adalah ilmu yang berkaitan dengan materi sebelumnya, jika siswa tidak mengerti materi sebelumnya mereka akan kesulitan mempelajari materi selanjutnya dan berdampak mereka jadi tidak memperhatikan apa yang guru terangkan (sebuah pemahaman konsep) di dalam kelas sehingga mereka semakin jauh dari kata “bisa” matematika. Biasanya, langkah yang mereka tempuh adalah menghapal rumus dan mengerjakan soal yang sama menggunakan rumus tersebut. Bagaimana jika soal yang diujikan tidak sama? Dan musti berapa rumus yang mereka hapalkan untuk menghadapi soal yang berbeda? Ini jadi permasalah yang sangat mendasar dan mungkin dialami oleh siswa dan guru itu sendiri.
      Kalau menurut saya, saat ini masih banyak siswa yang kelasnya naik tapi kemampuan matematikanya tidak padahal materi terus bertambah seiring naiknya kelas mereka.
Hal terpenting untuk bisa memahami konsep matematika adalah dengan menguasai Aljabar atau secara garis besar “bisa berhitung”. Apapun materi yang akan mereka pelajari akan bermuara ke sebuah masalah yang bernama “berhitung”, jika mereka tidak bisa berhitung maka mereka tidak akan bisa menyelesaikan soal-soal yang ada. Dan dengan mereka menguasai aljabar, mereka tidak akan mau menerima rumus secara mentah, mereka akan mencari tahu darimana rumus tersebut berasal sehingga tidak perlu menghapal rumus tersebut dan hapal dengan sendirinya karena paham, karena sebenarnya
rumus itu adalah penurunan dari konsep dasar dengan menggunakan aljabar.

      Bedakan yang hanya menghapal saja dengan menghapal dengan memahami. Biasanya yang hanya menghapal saja hapalnya cuma sesaat tapi yang menghapal dengan memahami mereka akan tetap hapal karena paham.
  1. Buku Pegangan Siswa (Buku Paket dan Buku LKS)
    Saat ini hampir semua buku pegangan siswa adalah sebuah bisnis antara kepala sekolah dan penerbit, bukan sesuai permintaan guru bidang studi, padahal yang mengajar adalah guru bukan kepala sekolah. Buku yang bagus itu penting untuk membantu siswa dalam belajar dan guru bidang studi wajib ikut serta dalam pemilihan buku tersebut. Penerbit yang bisa membayar lebih maka buku mereka yang digunakan. Apakah buku tersebut bagus? Tidak semua dan untuk buku LKS (lembar kerja siswa) hampir semua bisa dikatakan tidak bagus.
  2. Kemauan Siswa
    Kemauan siswa untuk mau mempelajari matematika datang karena mereka sudah suka matematika, tapi jika dua point di atas belum bisa teratasi maka siswa akan mempelajari matematika secara instant dengan menghapal banyak rumus saat besok mau ujian, bisa dikatakan mereka terpaksa belajar matematika untuk sebuah nilai bukan kemampuan untuk bisa matematika. Tidak jarang pula siswa belajar matematika di bimbel atau menghadirkan guru privat ke rumah. Ini mungkin solusi bagi yang mampu, bagaimana dengan yang tidak mampu? Dan kemana fungsi utama sekolah? Akankah sekolah menjadi sebuah bisnis belaka tanpa menghasilkan siswa yang berkualitas?“ Saya sering menemukan siswa kelas 3 SMK belum bisa menghitung dengan benar dan ini di Jakarta